Teknik Budidaya Tanaman Sagu
- Nama Lain dari Tanaman Sagu
Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan Irian. Hingga saat ini belum ada data yangmengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini dikenal. Di wilayah Indonesia bagian
Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian
penduduknya terutama di Maluku dan Irian Jaya. Teknologi eksploitasi,
budidaya dan pengolahan tanaman sagu yang paling maju saat ini adalah di Malaysia.
Tanaman Sagu dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula, bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia atau napia di Ambon; tumba di Gorontalo; Pogalu atau tabaro di Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru.Tanaman sagu masuk dalam Ordo Spadicflorae, Famili Palmae. Di kawasanIndo Pasifik terdapat 5 marga (genus) Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaituMetroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota.Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi.
Sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu : yang berbunga atau berbuah dua kali (Pleonanthic)
dan berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthic) yang mempunyai nilai
ekonomis penting, karena kandungan karbohidratnya lebih banyak. Golongan
ini terdiri dari 5 varietas penting yaitu :
- Metroxylon sagus,Rottbol atau sagu molat
- Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni.
- Metroxylon rumphii, Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu ihur
- Metroxylon rumphii,Martius varietas Longispinum Martius atau sagu Makanaru
- Metroxylon rumphii,Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Rotan
Dari kelima varietas tersebut, yang memiliki arti ekonomis penting adalah Ihur, Tuni, dan Molat.
Sagu
mempunyai peranan sosial, ekonomi dan budaya yang cukup penting di
Propinsi Papua karena merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat
terutama yang bermukim di daerah pesisir. Pertanaman sagu di Papua cukup
luas, namunluas areal yang pasti belum diketahui. Berdasarkan data penelitian dan
pengambangan pertanian dapat diperkirakan luas hutan sagu di Papua
mencapai 980.000 ha dan kebun sagu 14.000 ha, yang tersebar pada
beberapa daerah, yaitu Salawati, Teminabuan, Bintuni, Mimika, Merauke,
Wasior, Serui, Waropen, Membramo, Sarmi dan Sentani.
Sentra penanaman
sagu di dunia adalah Indonesia dan Papua Nugini, yang diperkirakan
luasan budi daya penanamannya mencapai luas 114.000 ha dan 20.000 ha.
Sedangkan luas penanaman sagu sebagai tanaman liar di Indonesia adalah
Irian Jaya, Maluku, Riau, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
- Syarat Tumbuh
Jumlah
curah hujan yang optimal bagi pertumbuhan sagu antara 2.000 – 4.000
mm/tahun, yang tersebar merata sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh sampai
pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut (dpl), namun produksi sagu
terbaik ditemukan sampai ketinggian 400 m dpl. Suhu optimal untuk
pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50 – 29oC dan suhu minimal 15oC, dengan kelembaban nisbi 90%. Sagu dapat tumbuh baik di daerah 100 LS - 150 LU dan 90 – 180 darajat BT,
yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun. Sagu dapat
ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%. Kelembaban yang
optimal untuk pertumbuhannya adalah 60%.
Tanaman sagu membutuhkan air yang
cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu.
Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang
bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air,
atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan tanah
mineral di rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan
bahan organik 30%. Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah
liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. Sagu
dapat tumbuh pada tanah vulkanik, latosol, andosol, podsolik merah
kuning, alluvial, hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. Sagu
mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. Pertumbuhan yang
paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organiknya tinggi dan
bereaksi sedikit asam pH 5,5 – 6,5.
Sagu
paling baik bila ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang
surut, terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar. Lingkungan
yang paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur,
dimana akar nafas tidak terendam. Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh
adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar, terutama potasium,
fosfat, kalsium, dan magnesium.
Pengertian
mengenai hutan sagu adalah hutan yang didominasi oleh tanaman sagu.
Selain sagu, masih bnyak tanaman lain yang ditemukan dalam kawasan
tersebut. Selain itu, dalam satu hamparan hutan sagu tidak hanya tumbuh
satu jenis sagu, tetapi terdapat beragam jenis sagu dan struktur
tanaman.
- Teknologi Perbanyakan tanaman sagu
Teknologi
perbanyakan tanaman sagu dapat dilakuan dengan metode generatif dan
vegetatif. Secara generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal
dari buah yang sudah tua dan rontok dari pohonnya. Biji yang digunakan
adalah biji yang berasal dari pohon induk yang baik, yang subur dan
produksinya tinggi.
Perbanyakan
tanaman sagu secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit
berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut
dangkel atau abut (jangan yang berasal dari stolon).
- Persemaian dan Pembibitan D.1. Persyaratan Benih atau BibitSyarat bibit untuk pembibitan cara generatif adalah biji yang digunakan sudah tua, tidak cacat fisik, besarnya rata-rata dan bertunas. Syarat bibit untuk pembibitan cara vegetatif adalah berasal dari tunas atau anakan yang umurnya kurang dari 1 tahun, dengan diameter 10-13 cm dan berat 2-3 kg. Tinggi anakan +1 meter dan punya pucuk daun 3-4 lembar.D.2. Penyiapan Benih atau Bibita). Cara generatifBiji yang digunakan berasal dari buah yang sudah tua dan jatuh/rontok dari pohon induk yang baik, yaitu subur dan produksinya tinggi, tumbuh pada lahan yang wajar serta produksi klon rata-rata tinggi. Biji/buah yang diambil tersebut adalah buah yang tidak cacat fisik, besarnya rata-rata, dan bernas.b). Cara VegetatifPembiakan secara vegatatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya. Adapun cara pengadaan adalah sebagai berikut :
- Pengambilan dengkel dipilih yang terletak di permukaan atas.
- Pemotongan dilakukan di sisi kiri dan kanan sedalam 30 cm, tanpa membuang akar serabutnya.
- Dangkel yang telah dipotong, dibersihkan dari daun-daun dan ditempatkan pada tempat yang mendapat cahaya matahari langsung dengan bagian permukaan belahan tepat pada tempat di mana cahaya matahari jatuh, selama 1 jam.
- Luka bekas irisan dangkel yang msih tertanam segera dilumuri dengan zat penutup luka (seperti : TB-1982 atau Acid Free Coalteer) untuk mencegah hama dan penyakit.
- Bibit sagu direndam dalam air aerobic selama 3-4 minggu. Setelah itu bibit ditanam.
- Penyiapan dangkel sebaiknya dilakukan pada waktu menjelang sore hari, kemudian pada sore hari dangkel dikumpulkan dan pada waktu malam hari diangkut ke lahan, untuk menghindari kerusakan dangkel oleh cahaya matahari.
D.3. Teknik Penyemaian Benih
a) Cara generatif :
Secara generatif penyemaian benih tanaman sagu dapat dilakukan dengan cara perkecambahan tidak langsung, penyiapan media, penataan bibit dan pembibitan, sebagai berikut.
1. Perkecambahan tak langsung
- Penyiapan media : Wadah atau bak dari bata atau bambu berukuran tinggi 30-40 cm, panjang tidak lebih dari 2 meter dan lebar 1,2 – 1,5 cm. Selanjutnya sepertiga bagian bawah diisi pasir dan atasnya serbuk gergaji basah.
- Penataan Bibit : bibit ditata dengan jarak 10 x 10 cm; 10 x 15 cm; atau 15 x 15 cm dengan posisi miring atau tegak, bagian lembaga diletakkan di bawah, ¾ bagian bibit ditekan dalam serbuk gergaji. Kelembaban media dijaga antara 80-90%. Setelah umur 1-2 bulan dan sudah berdaun 2-3 lembar, bibit dipindah ke bedeng pembibitan.
2. Pembibitan (Perkecambahan tak langsung di media pembibitan)
- Penyiapan media : Tanah diolah sedalam 45-60 cm, digemburkan dan ditambah pupuk dasar. Ukuran bedeng tinggi 30 cm; lebar 1,25 m; dan panjang + 8-10 dengan jarak antar bedengan 30-50 cm.
- Pengaturan pembibitan tanpa penjarangan : Bibit ditanam dengan jarak 25 x 25cm sampai dengan 40 x 40 cm. Pengaturan pembibitan dengan penjarangan : Pada mulanya bibit ditanam dengan jarak rapat, yaitu 12,5 x 12,5 cm; 15 x 15 cm; atau 20 x 20 cm.
D.4. Pemeliharaan Penyemaian
Cara generatif dengan penjarangan :
- Dilakukan setelah satu bulan, yaitu menjadi 25 x 25 cm; atau 40 x 40 cm.
- Selama masa penyemaian kelembaban dipertahankan 80 – 90 %
- Diberi naungan agar tidak kena cahaya matahari langsung.
- Peyiraman dilakukan setiap saat.
D.5. Pemindahan Bibit
a). Cara generatif :
Bibit yang berumur 6 -12 bulan dapat dipindahkan atau ditanam. Cara pengangkatannya ke kebun atau tempat penanaman mudah dan murah.
b). Cara Vegetatif
Setelah diambil dapat langsung ditanam.
- Panen
Ciri dan umur panen
Panen
dapat dilakukan umur 6 -7 tahun, atau bila ujung batang mulai
membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna
putih terutama pada bagian luarnya. Tinggi pohon 10 – 15 m, diameter 60 –
70 cm, tebal kulit luar 10 cm, dan tebal batang yang mengandung sagu 50
– 60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dapat dilihat dari
perubahan yang terjadi pada daun, duri, pucuk dan batang. Cara penentuan
pohon sagu yang siap panen di Maluku adalah sebagai berikut :
- Tingkat Wela/putus duri, yaitu suatu fase dimana sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap. Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya masih rendah, tetapi dalam keadaan terpaksa pohon ini dapat di panen.
- Tingkat Maputih, ditandai dengan menguningnya pelepah daun, duri yang terdapat pada pelepah daun hampir seluruhnya lenyap, kecuali pada bagian pangkal pelepah masih tertinggal sedikit. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin pandek dan kecil. Pada tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah siap dipanen, karena kandungan acinya sangat tinggi.
- Tingkat Maputih masa/masa jantung, yaitu fase dimana semua pelepah daun telah menguning dan kuncup bunga mulai muncul. Kandungan acinya telah padat mulai dari pangkal batang sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk panen sagu ihur (Metroxylon sylvester Martius)
- Tingkat siri buah, merupakan tingkat kematangan terakhir, di mana kuncup bunga sagu telah mekar dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai terbentuk. Fase ini merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis Metroxylon longisipium Martius
Langkah-langkah pemanenan sagu adalah sebagai berikut :
- Pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan di potong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.
- Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).
- Batang
dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya
rendah, sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6 – 15 meter.
Gelondongan dipotong – potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan
pengangkutan. Berat 1 gelondongan adalah + 120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3,1 cm. 2. Teknik Produksi Bioethanol SaguBagian terpenting dalam tanaman sagu adalah batang sagu karena merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang dapat menghasilkan pati sagu. Tinggi batang sagu dewasa mencapai 10 m . Ukuran dari batang sagu dan kandungan patinya tergantung pada jenis sagu, umur dan habitatnya. Pada umur panen sekitar 11 tahun ke atas empulur sagu mengandung pati sekitar 15-20 persen. Setiap pohon sagu dapat menghasilkan tepung sagu berkisar antara 50-450 kg tepung sagu basah.Kandungan pati maksimal terjadi pada waktu sagu sebelum berbunga. Munculnya primordia bunga biasanya menunjukkan kandungan pati menurun. Kandungan pati menurun karena digunakan sebagai energi untuk pembentukan bunga dan buah. Setelah pembungaan dan pembentukan buah, batang akan menjadi kosong dan tanaman sagu mati. Keadaan tersebut mempermudah petani dalam mengetahui kandungan pati sagu secara maksimal.Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial disamping beras, khususnya bagi sebagian besar masyarakat di kawasan Timur Indonesia seperti Irian Jaya dan Maluku. Beberapa produk olahan dari pati sagu antara lain papeda, soun, dan ongol-ongol. Diperkirakan hampir 90% areal sagu Indonesia berada di Irian Jaya dan saat ini arealnya menyusut akibat esksploitasi yang berlebihan. Sistem pengolahan sagu di Indonesia masih sangat rendah yang ditandai dengan kapasitas dan produktivitas pengolahan yang masih rendah.BIAYAPendirian kebun budidaya sagu seluas 96 ha memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang dikeluarkan selama umur proyek (25 tahun). Biaya investasi terdiri dari biaya pembelian peralatan, dan biaya pengadaan sarana penunjang antara lain lahan, bangunan, unit pengolahan sagu, peralatan kantor serta sarana transportasi. Biaya sarana penunjang yang dikeluarkan adalah Rp. 5,729,350,000,- sedangkan biaya pembelian peralatan adalah Rp. 76,470,000,-. Investasi untuk peralatan dilakukan setiap tahun dengan nilai investasi yang berbeda-beda. Komponen biaya investasi pendirian kebun budidaya kelapa sawit 6.000 ha untuk tahun pertama disajikan pada Tabel 66. Secara rinci, biaya investasi pendirian kebun dan unit pengolahan sagu disajikan pada Lampiran 20.Tabel 66. Kebutuhan investasi kebun budidaya 96 haUraian InvestasiTotal Biaya (Rp)
A Fasilitas penunjang 1. Kantor dan unit pengolahan 5,300,000,0002. Kendaraan, infrastruktur kebun 412,500,0003. Fasilitas penunjang kantor 16,850,000B Peralatan budidaya 76,470,000Total Investasi 5,805,820,000Biaya operasional untuk penanaman dan persiapan lahan adalah sebesar Rp. 134,182,320,- untuk biaya tenaga kerja dan Rp. 33,600,653,- untuk pembelian bahan. Rincian biaya operasional tersebut disajikan pada Tabel 67.Tabel 67 . Rincian biaya operasional pendirian hutan budidaya saguTenaga Kerja Jumlah Satuan Harga/satuan Total I Persiapan Lahan 1Pembersihan lahan 1440HOK 20,00028,800,0002Pengolahan tanah 1440HOK 20,00028,800,0003Pemancangan bambu 576HOK 20,00011,520,0004Pembuatan lubang tanam 1440HOK 20,00028,800,000II Persemaian dan Pembibitan 1Pengolahan tanah dan pembuatan bedengan 23HOK 20,000450,0002Penanaman bibit 45HOK 20,000892,3203Pemeliharaan 18HOK 20,000360,000III Penanaman 2Pemberian pupuk 768HOK 20,00015,360,0003Penanaman 960HOK 20,00019,200,000Total Biaya TK 134,182,320BAHAN 1Bambu 27,456buah 3008,236,8002Pupuk pd pembibitan Urea 178.464kg 1,400249,850SP-36 178.464kg 1,600285,542KCL 178.464kg 2,200392,6213Pemupukan pd penanaman Urea 0kg 2,6000PA/SP-36 4118.4kg 1,6006,589,440TSP 0kg 1,8000KCl 0kg 3,5000Kieserite 01,20004Pestisida 384l 50,00019,200,0005Bibit sagu 17,846buah 1,00017,846,400Total Biaya Bahan 52,800,653Pada tahun ke-6 , biaya tenaga kerja bertambah dengan adanya biaya untuk panen dan pengolahan pati sagu begitu juga adanya penambahan biaya operasional untuk pengolahan berupa listrik air dan bahan bakar. Biaya operasional untuk tahun pertama dan seterusnya secara lengkap disajikan pada Lampiran 21.PENDAPATANPendapatan kebun dan unit pengolahan sagu dihasilkan dari penjualan pati sagu. Dengan asumsi harga pati Rp. 2.200.000,- per ton dan produktivitas lahan 10 ton pati sagu/ha/tahun maka perusahaan akan mendapatkan pemasukan sebesar Rp. 2,112,000,000,- yang diperoleh setiap dua tahun sekali.PROYEKSI ARUS KAS DAN KRITERIA KELAYAKAN USAHAKelayakan usaha budidaya sagu dianalisis menggunakan proyeksi arus kas dan perhitungan kriteria kelayakan yang terdiri dari NPV, IRR, Net B/C serta PBP. Usaha dikatakan layak jika dapat memenuhi kewajiban finansial serta dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Proyeksi arus kas secara lengkap disajikan pada Lampiran 22, adapun hasil perhitungan kriteria kelayakan disajikan pada Tabel 68.Tabel 68. Kriteria kelayakan usaha budidaya dan pengolahan saguKriteria investasiNilaiNPV 143,201,144.82IRR 20%B/C Ratio 1.421587641Dari perhitungan kriteria tersebut, terlihat bahwa usaha pendirian kebun budidaya kelapa sawit layak dilakukan dan menguntungkan secara finansial. Dengan umur proyek 25 tahun, nilai NPV adalah positif, nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga bank (20% > 15%) dan B/C ratio lebih besar dari 1.B. Analisis Finansial Bioetanol Sagu1. Asumsi perhitunganDalam perhitungan analisis finansial bioetanol sagu digunakan beberapa asumsi yaitu umur ekonomi proyek 20 tahun, kapasitas produksi 33 ribu KL/tahun serta beberapa parameter lainnya yang disajikan pada Tabel 69.Tabel 69. Asumsi perhitungan finansial industri bioetanol saguAsumsi SatuanNilai1Kapasitas produksi bioetanol kilo liters/tahun33,0002Pembiayaan Debt Equity Ratio 65%35%Bunga - Investasi p.a.10%- Modal kerja p.a.10%Pengembalian - investasi tahun5- Modal kerja tahun2Depresiasi tahun(straight line)123UTILITIES Uap panas Rp/Ton80,000.00Air Rp/M3285.00Listrik Rp/KWh570.004Bahan baku Sagu Rp/Ton2,000,000Total kebutuhan Ton/ hari183.33Faktor konversi %60%5Bahan kimia dan bahan tambahan Asam sulfat Rp/Kg2,450.00Asam phospat Rp/Kg5,250.00NaOH Rp/Kg1,750.00Amonia cair Rp/Kg4,375.00Anti busa Rp/Kg21,000.00Alfa Amylase Rp/Kg70,000.00Gluco Amylase Rp/Kg87,500.00Urea Rp/Kg2,600.006Lain-lain Tenaga kerja Rp/TOK54,000,00088Pemeliharaan equip. cost/year2%Administrasi perusahaan dr biaya TK60%Asuransi equip. cost/year0.7%Pemasaran dr penjualan0.5%Laboratorium dan R&D dr penjualan0.5%7Harga Jual Bioetanol Rp/KL5,500,0008Hari kerja/tahun hari3002. InvestasiBiaya investasi untuk pendirian pabrik bioetanol sagu terdiri dari biaya proyek, dan modal kerja. Biaya proyek merupakan seluruh modal awal yang diperlukan untuk pengadaan tanah, bangunan dan peralatan juga biaya IDC (Interest during construction). IDC adalah biaya bunga yang dihasilkan selama pendirian pabrik (perhitungan disajikan pada Lampiran 23). Sedangkan modal kerja adalah modal yang dikeluarkan untuk keperluan pengadaan bahan baku, bahan pembantu, tenaga kerja dan biaya operasional untuk menjalankan usaha.Total investasi yang diperlukan sebesar Rp.188,793,307,153,- dimana modal tersebut diperoleh dari pinjaman dan modal sendiri dengan Debt Equity Ratio (65:35). Rincian biaya investasi disajikan pada Tabel 70.Tabel 70. Investasi pendirian pabrik bioetanol sagu1Investasi tetap OSBLISBLTOTALPengeluaran pra proyek 950,000,000950,000,000Boiler 9,120,000,0009,120,000,000Pengolahan air limbah, Cooling System & WTP 33,250,000,00033,250,000,000Utilitas 9,927,500,0009,927,500,000Tangki 14,250,000,00014,250,000,000Biaya tambahan, Infrastruktur 9,053,500,0009,053,500,000Pengeluaran team proyek 4,750,000,0004,750,000,000Pabrik 71,250,000,00071,250,000,000Pajak 0Biaya proyek 81,301,000,00071,250,000,000152,551,000,0002IDC 10,788,406,720Total biaya proyek 163,339,406,7203Modal kerja 14,665,493,713Total Investasi 188,793,307,153Modal kerja terdiri dari biaya variabel yang jumlahnya tergantung pada jumlah bioetanol yang dihasilkan dan biaya tetap yang nilainya tidak dipengaruhi oleh kapasitas produksi. Modal kerja yang digunakan adalah modal kerja tertinggi yaitu pada saat pabrik telah beroperasi maksimal (100%) yaitu sebesar Rp. 14,665,493,713,-, yang merupakan biaya operasional bahan baku selama 30 hari dan inventory 15 hari. Rincian perhitungan modal kerja disajikan pada Lampiran 24.Biaya variabel terdiri dari biaya bahan baku dan bahan tambahan, utilitas dan konsumsi serta transportasi produk. Rincian biaya operasional dengan kapasitas pabrik maksimal (100%) disajikan pada Tabel 71.Tabel 71. Biaya operasional pabrik bioetanol sagu kapasitas 110 KL/hariDESKRIPSIKonsumsi SatuanHargaTotal BIAYA VARIABEL Biaya Bahan Baku Singkong 1.67mt/kl product2,000,000110,000,000,000SUB TOTAL 110,000,000,000Bahan Kimia Dan Tambahan Asam sulfat 3.12kg/kl product2,450.00252,252,000NaOH 50% 1.08kg/kl product1,750.0062,370,000Ammonia cair 30% 12.25kg/kl product4,375.001,768,593,750Urea 5.18kg/kl product2,600.00444,444,000Alpha Ammylase 0.91kg/kl product70,000.002,102,100,000Gluco Ammylase 1.1kg/kl product87,500.003,176,250,000SUB TOTAL 7,806,009,750Biaya Utilitas Steam 2.1Ton/kl product80,000.005,544,000,000Air 2.5m3/kl product285.0023,512,500Listrik 165KWh/kl product570.003,103,650,000SUB TOTAL 8,671,162,500TOTAL VARIABLE COST 126,477,172,250BIAYA TETAP Tenaga kerja 88person54,000,0004,752,000,000Pemeliharaan 2%equip. cost/year3,051,020,000Asuransi 0.7%equip. cost/year1,067,857,000Pemasaran 0.5%Sales907,500,000Biaya penunjang dan administrasi 60%of Manpower cost2,851,200,000Laboratorium dan R&D 0.5%of sales907,500,000Depresiasi 12year (straight line)10,295,625,000Bunga Rp/Year6,596,793,403TOTAL BIAYA TETAP 30,429,495,403TOTAL BIAYA PRODUKSI 156,906,667,653Produksi dan Pendapatan UsahaDengan kapasitas produksi 110 KL bioetanol per hari, dan harga jual Rp.5.500,- per liter maka akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 605.000.000,- per hari atau Rp. 15,125,000,000,-. Secara lengkap produksi dan pendapatan usaha bioetanol sagu disajikan pada Lampiran 25.Arus kas dan kriteria kelayakan usahaKelayakan industri bioetanol berbahan baku sagu dianalisis menggunakan proyeksi arus kas dan perhitungan kriteria kelayakan yang terdiri dari NPV dan IRR. Usaha dikatakan layak jika dapat memenuhi kewajiban finansial serta dapat mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Proyeksi arus kas secara lengkap disajikan pada Lampiran 26. Adapun hasil perhitungan kriteria kelayakan disajikan pada Tabel 72.Tabel 72. Kriteria Investasi industri bioetanol saguKriteria InvestasiNilaiIRR 15.38%NPV 71,242,631,102Dari perhitungan kriteria tersebut, terlihat bahwa usaha pendirian industri bioetanol sagu layak dilakukan dan menguntungkan secara finansial. Dengan umur proyek 20 tahun, nilai NPV positif dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga bank (15.38% > 10%).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar